News Update :
Home » » Martin Luther King's Speech: “I Have a Dream” Aug. 28, 1963 Pidato Martin Luther King: Saya memiliki Mimpi 28 Agustus 1963

Martin Luther King's Speech: “I Have a Dream” Aug. 28, 1963 Pidato Martin Luther King: Saya memiliki Mimpi 28 Agustus 1963

Penulis : citra priski on Wednesday, July 10, 2013 | 7:27 PM


I am happy to join with you today in what will go down in history as the greatest demonstration for freedom in the history of our nation.
Saya bahagia bisa bergabung bersama kalian saat ini pada apa yang akan menjadi sejarah kita sebagai demonstrasi terbesar untuk menggapai kemerdekaan dalam sejarah negara kita.
Five score years ago, a great American, in whose symbolic shadow we stand signed the Emancipation Proclamation. This momentous decree came as a great beacon light of hope to millions of Negro slaves who had been seared in the flames of withering injustice. It came as a joyous daybreak to end the long night of captivity.
Seratus tahun lalu, seorang tokoh Amerika (Abraham Lincoln, 1863) yang kita kagumi telah menandatangani proklamasi emansipasi. Keputusan penting ini laksana cahaya harapan yang terang benderang  bagi jutaan budak kulit hitam yang telah terpanggang dalam api kehinaan dan ketidakadilan. Peristiwa itu menjadi fajar yang menggembirakan dan mengakhiri malam panjang mereka yang terpasung.

But one hundred years later, we must face the tragic fact that the Negro is still not free. One hundred years later, the life of the Negro is still sadly crippled by the manacles of segregation and the chains of discrimination. One hundred years later, the Negro lives on a lonely island of poverty in the midst of a vast ocean of material prosperity. One hundred years later, the Negro is still languishing in the corners of American society and finds himself an exile in his own land. So we have come here today to dramatize an appalling condition.
Namun seratus tahun setelah peristiwa itu, Kita harus menghadapi kenyataan tragis bahwa orang kulit hitam masih belum merdeka. Seratus tahun kemudian, kehidupan orang kulit hitam masih menyedihkan, dilumpuhkan oleh borgol-borgol pemisah dan rantai-rantai diskriminasi. Seratus tahun kemudian, orang kulit hitam hidup  miskin dan kesepian di sebuah pulau penuh dengan lautan kekayaan materi. Seratus tahun kemudian, orang kulit hitam masih tidak berdaya di lingkungan masyarakat Amerika dan mereka menemukan diri mereka terasing di tanah airnya. Hari ini kita datang untuk mendramatisasikan sebuah kondisi yang mengerikan.
In a sense we have come to our nation's capital to cash a check. When the architects of our republic wrote the magnificent words of the Constitution and the Declaration of Independence, they were signing a promissory note to which every American was to fall heir. This note was a promise that all men would be guaranteed the inalienable rights of life, liberty, and the pursuit of happiness.
Dengan penuh kesadaran kita datang ke ibu kota negara untuk mencairkan sebuah cek. Saat para pemeimpin negara menuliskan kata-kata yang menakjubkan pada konstitusi negara dan deklarasi kemerdekaan, mereka menandatangani sebuah perjanjian utang dimana semua warga Amerika adalah para pewarisnya. Catatan ini adalah sebuah janji bahwa semua warga negara akan dijamin dan memiliki hak-hak yang tidak dapat dicabut, yaitu hak akan hidup, kemerdekaan serta hak menggapai kebahagiaan.
It is obvious today that America has defaulted on this promissory note insofar as her citizens of color are concerned. Instead of honoring this sacred obligation, America has given the Negro people a bad check which has come back marked "insufficient funds." But we refuse to believe that the bank of justice is bankrupt. We refuse to believe that there are insufficient funds in the great vaults of opportunity of this nation. So we have come to cash this check -- a check that will give us upon demand the riches of freedom and the security of justice. We have also come to this hallowed spot to remind America of the fierce urgency of now. This is no time to engage in the luxury of cooling off or to take the tranquilizing drug of gradualism. Now is the time to rise from the dark and desolate valley of segregation to the sunlit path of racial justice. Now is the time to open the doors of opportunity to all of God's children. Now is the time to lift our nation from the quick sands of racial injustice to the solid rock of brotherhood.
Jelas sekali terlihat bahwa saat ini Amerika telah gagal melaksanakan surat perjanjian tersebut karena sejauh ini masih membeda-bedakan warna kulit penduduknya. Bukannya menghormati perjanjian yang mulia ini, Amerika justru memberi sebuah cek yang salah untuk warga kulit hitam yang kemudian dikembalikan dengan tulisan “dana tidak mencukupi”. Tapi kita menolak untuk percaya bahwa bank keadilan telah bangkrut. Kita tidak percaya bahwa tidak ada dana yang mencukupi dalam kubah besar peluang negara ini menjadi merdeka. Kita datang untuk mencairkan cek ini – sebuah cek yang akan mengabulkan permintaan kita memperoleh kekayaan kemerdekaan dan rasa aman akan keadilan. Kami datang ke tempat suci ini untuk mengingatkan Amerika sangat pentingnya saat ini. Saat ini bukanlah waktunya untuk terlibat dalam masa tenang yang penuh dengan kemewahan dan juga bukan waktu untuk mengkonsumsi obat penenang secara berlebihan. Saat ini adalah masa untuk bangkit dari lembah gelapan dan terisolasi menuju jalan terang keadilan rasial. Sekarang adalah saatnya untuk membuka pintu-pintu kesempatan bagi semua anak-anak Tuhan. Sekarang adalah saatnya mengangkat negara kita dari pasir hisap ketidakadilan rasial menuju tanah bebatuan persaudaraan.
It would be fatal for the nation to overlook the urgency of the moment and to underestimate the determination of the Negro. This sweltering summer of the Negro's legitimate discontent will not pass until there is an invigorating autumn of freedom and equality. Nineteen sixty-three is not an end, but a beginning. Those who hope that the Negro needed to blow off steam and will now be content will have a rude awakening if the nation returns to business as usual. There will be neither rest nor tranquility in America until the Negro is granted his citizenship rights. The whirlwinds of revolt will continue to shake the foundations of our nation until the bright day of justice emerges.
Akan berakibat fatal bagi negara jika mengabaikan pentingnya saat ini, dan meremehkan ketetapan hati dari para orang kulit hitam. Ketidakpuasan kaum kulit hitam ibarat musim panas yang terik dan tidak akan berakhir hingga tibanya musim gugur yang menyegarkan berupa kebebasan dan persamaan. Tahun 1963 bukanlah sebuah akhir tetapi merupakan sebuah awal. Saat ini para pihak yang berharap orang kulit hitam mengeluarkan isi hatinya akan merasa puas dan mereka akan memberontak jika negara kembali seperti semula. Tidak akan ada istirahat ataupun ketenangan di Amerika hingga orang-orang kulit hitam dijamin hak-hak kewarganegaraannya. Angin puyuh pemberontakan akan terus mengguncang pondasi negara kita hingga munculnya hari terang dengan keadilan.
But there is something that I must say to my people who stand on the warm threshold which leads into the palace of justice. In the process of gaining our rightful place we must not be guilty of wrongful deeds. Let us not seek to satisfy our thirst for freedom by drinking from the cup of bitterness and hatred.
Tapi ada sesuatu yang harus saya sampaikan pada teman-teman saya yang terus berjuang menuju istana keadilan. Dalam proses memperoleh tempat kita yang tepat, kita tidak boleh salah ataupun melakukan kesalahan. Janganlah kita berusaha memuaskan dahaga kita akan kemerdekaan dengan meminum dari cangkir yang penuh dengan kepahitan dan kebencian.
We must forever conduct our struggle on the high plane of dignity and discipline. We must not allow our creative protest to degenerate into physical violence. Again and again we must rise to the majestic heights of meeting physical force with soul force. The marvelous new militancy which has engulfed the Negro community must not lead us to distrust of all white people, for many of our white brothers, as evidenced by their presence here today, have come to realize that their destiny is tied up with our destiny and their freedom is inextricably bound to our freedom. We cannot walk alone.
Kita harus selamanya mengarahkan perjuangan kita pada memuncaknya martabat dan kedisiplinan. Kita tidak boleh membiarkan protest kreatif kita berubah menjadi kejahatan fisik. Lagi dan lagi kita harus bangkit dari majelis tinggi kekuatan fisik menuju kekuatan jiwa.  Militan baru yang menakjubkan dan tengah melanda komunitas warga kulit hitam seharusnya tidak membimbing kita untuk merusak semua orang kulit putih, karena banyak saudara kulit putih kita yang datang untuk menyadari bahwa tujuan mereka terikat dengan tujuan kita , dan kemerdekaan mereka juga terikat dengan kemerdekaan kita. Kita tidak dapat berdiri sendiri.
And as we walk, we must make the pledge that we shall march ahead. We cannot turn back. There are those who are asking the devotees of civil rights, "When will you be satisfied?" We can never be satisfied as long as our bodies, heavy with the fatigue of travel, cannot gain lodging in the motels of the highways and the hotels of the cities. We cannot be satisfied as long as the Negro's basic mobility is from a smaller ghetto to a larger one. We can never be satisfied as long as a Negro in Mississippi cannot vote and a Negro in New York believes he has nothing for which to vote. No, no, we are not satisfied, and we will not be satisfied until justice rolls down like waters and righteousness like a mighty stream.
Dan saat kita berjalan, kita harus membuat janji bahwa kita akan berbaris ke depan. Kita tidak boleh kembali pulang. Adalah orang-orang yang meminta hak untuk memberikan suara, “Kapan kalian akan merasa puas?” Kami tidak akan pernah merasa puas selama tubuh kami terasa berat karena nyeri perjalanan, karena kami tidak dapat beristirahat di motel-motel yang dekat dengan jalanraya ataupun di hotel-hotel yang terletak di kota. Kami tidak bisa merasa puas selama mobilitas dasar orang kulit hitam hanya dari ghetto yang lebih kecil menuju yang lebih besar. Kami tidak akan bisa merasa puas selama orang kulit hitam di Misisipi tidak bisa memberikan suara dan seorang kulit hitam di Amerikatidak memiliki apa pun tuntuk dipilih. Tidak, tidak, kami tidak merasa puas, dan kami tidak akan merasa puas hingga keadilan dapat mengalir seperti air dan kebenaran laksana arus yang deras.
I am not unmindful that some of you have come here out of great trials and tribulations. Some of you have come fresh from narrow cells. Some of you have come from areas where your quest for freedom left you battered by the storms of persecution and staggered by the winds of police brutality. You have been the veterans of creative suffering. Continue to work with the faith that unearned suffering is redemptive.
Saya menghargai bahwa beberapa dari kalian datang ke tempat ini untuk mengeluarkan diri dari cobaan besar dan kesengsaraan. Beberapa dari kalian baru saja berasal dari sel sempit. Beberapa dari kalian datang dari wilayah dimana pencarian kalian untuk memperoleh kemerdekaan membuatmu babak belur teraniaya oleh badai dan terhuyung oleh angin kebrutalan polisi. Kalian adalah para pejuang dari penderitaan yang kreatif. Terus bekerja dengan keyakinan bahwa penderitaan yang diterima di awal adalah sebagai tebusan.
Go back to Mississippi, go back to Alabama, go back to Georgia, go back to Louisiana, go back to the slums and ghettos of our northern cities, knowing that somehow this situation can and will be changed. Let us not wallow in the valley of despair.
Kembalilah ke Mississippi, kembalilah ke Alabama, kembalilah ke Georgia, kembalilah ke Lousiana, kembalilah ke daerah-daerah kumuh dan ghetto-ghetto yang ada di utara kota, menyadari bahwa pada suatu saat situasi ini kan berubah. Janganlah kita terjatuh dalam lembah keputusasaan.
I say to you today, my friends, that in spite of the difficulties and frustrations of the moment, I still have a dream. It is a dream deeply rooted in the American dream.
Hari ini saya berkata pada kalian, teman-temanku, terlepas dari kesulitan dan rasa frustasi saat ini, saya masih memiliki sebuah impian. Ini adalah mimpi yang berakar dari mimpi orang Amerika.
I have a dream that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: "We hold these truths to be self-evident: that all men are created equal."
Saya memiliki sebuah mimpi bahwa suatu saat, negara ini akan bangkit dan menjalankan arti yang sebenarnya (dari perjanjian proklamasi emansipasi):“Kita memegang teguh kepercayaan ini sebagai bukti: bahwa semua manusia diciptakan sama”.
I have a dream that one day on the red hills of Georgia the sons of former slaves and the sons of former slave owners will be able to sit down together at a table of brotherhood.
Saya memiliki sebuah mimpi bahwa pada suatu hari di Red Hills Georgia, para anak budak dan para anak majikannya dapat duduk secara bersama-sama di sebuah meja persaudaraan.
I have a dream that one day even the state of Mississippi, a desert state, sweltering with the heat of injustice and oppression, will be transformed into an oasis of freedom and justice.
Saya memiliki sebuah mimpi bahwa suatu hari negara Mississippi, negara gurun pasir, yang terik dengan panas ketidakadilan dan penindasan, akan berubah menjadi sebuah oasis kemerdekaan dan keadilan.
I have a dream that my four children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.
Saya memiliki mimpi bahwa pada suatu hari keempat anak saya akan tinggal di sebuah negara dimana mereka tidak dihakimi berdasarkan warna kulit mereka tetapi berdasarkan karakter mereka.
I have a dream today.
I have a dream that one day the state of Alabama, whose governor's lips are presently dripping with the words of interposition and nullification, will be transformed into a situation where little black boys and black girls will be able to join hands with little white boys and white girls and walk together as sisters and brothers.
Saya memiliki sebuah mimpi sekarang
Saya memiliki sebuah mimpi bahwa suatu hari, negara bagian Alabama, yang dari bibir gubernur kotanya mengalir kata-kata yang penuh celaan dan penghinaan, akan berubah menjadi sebuah situasi dimana lelaki kecil kulit hitam dan perempuan kecil kulit hitam akan dapat bergandengan tangan dengan anak laki-laki kulit putih dan anak perempuan kulit putih, dan mereka berjalan bersama-sama sebagaimana saudara laki-laki dan perempuan.
I have a dream today.
I have a dream that one day every valley shall be exalted, every hill and mountain shall be made low, the rough places will be made plain, and the crooked places will be made straight, and the glory of the Lord shall be revealed, and all flesh shall see it together.
Saya memiliki sebuah mimpi saat ini
Saya memiliki sebuah mimpi bahwa suatu hari, setiap lembah akan dimuliakan, setiap bukit dan gunung akan dibuat rendah, tempat yang kacau akan dibuat bersih, dan tempat yang bengkok akan dibuat lurus, dan kebesaran Tuhan akan diungkapkan, dan semua manusia akan melihatnya bersama-sama.
This is our hope. This is the faith with which I return to the South. With this faith we will be able to hew out of the mountain of despair a stone of hope. With this faith we will be able to transform the jangling discords of our nation into a beautiful symphony of brotherhood. With this faith we will be able to work together, to pray together, to struggle together, to go to jail together, to stand up for freedom together, knowing that we will be free one day.
Inilah mimpi kita. Inilah keyakinan yang membuat saya kembali ke Selatan. Dengan keyakinan ini akan akan merambah pengunungan keputusasaan dengan sebuah batu harapan. Dengan keyakinan ini kami akan dapat mengubah dentingan perselisihan menjadi sebuah simponi persaudaraan yang indah. Dengan keyakinan ini kita akan dapat bekerja bersama-sama berdoa bersama-sama, berjuang bersama-sama, masuk ke penjara bersama-sama, memperjuangkan kemerdekaan secara bersama-sama, menyadari bahwa kami akan merdeka pada suatu hari nanti.
This will be the day when all of God's children will be able to sing with a new meaning, "My country, 'tis of thee, sweet land of liberty, of thee I sing. Land where my fathers died, land of the pilgrim's pride, from every mountainside, let freedom ring."
Inilah hari ketika semua anak-anak Tuhan dapat bernyanyi bersama-sama dengan makna baru, “Negaraku, padamu, negara merdeka, yang aku nyanyikan. Tanah dimana ayahku meinggal, tanah yang menjadi kebanggaan para pendatang, yang datang dari berbagai sisi pegunungan, biarkan kebebasan bordering.”
And if America is to be a great nation this must become true. So let freedom ring from the prodigious hilltops of New Hampshire. Let freedom ring from the mighty mountains of New York. Let freedom ring from the heightening Alleghenies of Pennsylvania!
Dan jika Amerika menjadi negara besar hal ini harus nyata. Jadi biarkan kebebasan berkumandang dari puncak bukit New Hampshire yang luar biasa. Biarkan kebebasan berkumandang dari pegunungan NewYork yang besar. Biarkan kebebasan berkumandang dari ketinggian Alleghenies Pennsylvania!
Let freedom ring from the snowcapped Rockies of Colorado!
Biarkan kebebasan berkumandang dari pegunungan salju Rockies di Colorada
Let freedom ring from the curvaceous slopes of California!
Biarkan kebebasan berkumandang dari lereng pegunungan Rockies Colorado.
But not only that; let freedom ring from Stone Mountain of Georgia!
Bukan hanya itu; biarkan kebebasan berkumanadang dari Pengunungan Batu Georgia!
Let freedom ring from Lookout Mountain of Tennessee!
Biarkan kebebasan berkumanadang dari menara pandang pengunungan di Tennessee
Let freedom ring from every hill and molehill of Mississippi. From every mountainside, let freedom ring.
Biarkan kebebasan berkumandang dari setiap bukit dan lembah di Mississippi. Dari setiap celah gunung, biarkan kebebasan bordering.
And when this happens, when we allow freedom to ring, when we let it ring from every village and every hamlet, from every state and every city, we will be able to speed up that day when all of God's children, black men and white men, Jews and Gentiles, Protestants and Catholics, will be able to join hands and sing in the words of the old Negro spiritual, "Free at last! free at last! thank God Almighty, we are free at last!"
Dan saat ini terjadi, ketika kita mengijinkan kemerdekaan untuk berkumandang, ketika kita membiarkan kebebasan berkumandang dari setiap desa dan setiap dusun, dari setiap negara dan kota, kita akan dapat mempercepat hari dimana semua anak-anak Tuhan, hitam ataupun putih, Yahudi ataupun kafir, Protestan dan katolik, akan dapat saling tolong menolong dan bernyanyi  dengan kata-kata  spiritual lama dari orang kulit hitam, “akhirnya kita Merdeka! Akhirnya kita Merdeka! Terimakasih Tuhan yang Maha Perkasa, Kita akhirnya merdeka”.
Share this article :

+ komentar + 6 komentar

December 11, 2016 at 4:05 PM

manjur infonya
JELITA RELOAD
JELITA RELOAD

January 30, 2017 at 5:00 AM

salam sejahtera untuk admin dan semuanya,....
Permata Pulsa Murah
Permata Pulsa Murah

February 7, 2017 at 8:06 AM

Ajib,... terima kasih. izin lapor kunjungan admin,...
NIKI RELOAD
NIKI RELOAD

April 4, 2017 at 12:46 AM

infonya sangat bermanfaat .makasih ,keren deh PERMATA PULSA

July 8, 2017 at 6:27 AM

i want to is the best
www.rajapulsa.web.id

October 12, 2017 at 8:39 AM

Wah... Pidato Martin Luther King Jr. sangat luar biasa! Dan saya rasa, Impiannya hampir Terwujud.

Post a Comment

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger